Hit Enter to search or Esc key to close
Kampung Naga

Mengenal Kebudayaan Dan Tradisi Di Kampung Naga Jawa Barat

Mengenal Kebudayaan Dan Tradisi Di Kampung Naga Jawa Barat

Kampung Naga , ,

Mengenal Kebudayaan Dan Tradisi Di Kampung Naga Jawa Barat

By: Allis Restanura

Jika Anda berkunjung ke Tasikmalaya, di sini ada kampung yang sangat terkenal di Jawa Barat karena kearifan lokalnya. Kampung ini disebut Kampung Naga. Kenapa disebut Kampung Naga? Sebenarnya tidak ada hubungannya dengan hewan mitos naga tetapi memang nama sebutan saja. Naga berasal dari asal kata Nagawir yang dalam Bahasa Sunda artinya tebing terjal, secara tidak langsung penamaan ini memberi pemahaman lansekap tentang ruang hidup mereka. Keunikan penggunaan adat tradisional Naga terletak pada konsep filosofi, bahan yang digunakan, dan bentuk bangunannya yang adaptif dengan mitigasi kebencanaan. Berada di Hulu Sungai Ciwulan, warga Naga turut menjaga ketersedian air terus mengalir sepanjang masa karena menghormati hutan sebagai sesuatu yang keramat.

Untuk sampai ke lokasi perkampungan, pengunjung harus menuruni 400 anak tangga dari batu yang dilapisi semen selebar 2 meter. Lokasinya diapit perbukitan dataran tinggi dengan kemiringan 45 derajat yang membujur dari timur ke barat. Perbukitan itu terletak di kawasan hulu Sungai Ciwulan. Dilihat dari ketinggian, rumah-rumah kampung terlihat rapi. Semua sejajar dalam posisi timur-barat. Ada terdapat 103 rumah penduduk, jumlahnya tetap. Tidak boleh bertambah atau pun dikurangi.

Tidak banyak yang tahu, Kampung Naga juga memiliki beberapa kesenian, yakni Terbang Gembrung, Terbang Sajak, Angklung, Gambang dan kesenian lainnya. Terbang Gembrung misalnya, suatu bentuk musik yang kerap dimainkan saat malam takbiran. Kesenian ini bersifat suci dan sakral sehingga hanya dimainkan di waktu tertentu dan hanya disaksikan oleh warga Kampung Naga saja.“Kesenian di sini banyak, cuma yang sering dipakai ialah Terbang Gembrung, Angklung, Terbang Sajak dan Gambang. Yang sifatnya religi ialah Terbang Gembrung, dipentaskan apabila bulan syawal untuk mengiringi takbir Idulfitri dengan bacaan shalawat nabi,” ucap Ade Suherlin, Juru Kunci Kampung Naga.

Kampung Naga

Tak ada persiapan khusus saat menghadirkan kesenian Terbang Gembrung. Warga Kampung Naga biasanya sudah mengetahui apa-apa saja yang dibutuhkan.  Selain Terbang Gembrung, kesenian lain umumnya dapat dimainkan kapan saja. Bahkan. kata Ade, Terbang Sajak kerap diiringi oleh tarian atau joget. Alat-alat musiknya pun diletakannya di balai kampung agar memudahkan warga saat menggunakan alat tersebut.

Disisi lain, keasrian dan kebersihan Kampung Naga juga tak terlepas dari peran seorang juru pelihara, yang diemban oleh Ucu Suherlan. Bertahun-tahun lamanya, Ucu, demikian ia disapa, bertugas merawat cagar budaya dan berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten, tidak hanya dari ganguan alam namun juga dari manusia.

Bentuk pelestarian yang dijaga ialah bentuk fisik rumah adat (tangible) ataupun yang bersifat seremonial (intangible). Ucu mengatakan, untuk menjaga kelestarian Kampung Naga tidak hanya dibutuhkan peran juru pelihara tapi juga seluruh kompenen masyarakat Kampung Naga. Oleh karena itu, ia juga membuat suatu organisasi berdasarkan rujukan dari lembaga adat untuk memudahkan koordinasi.

Seperti yang di ketahui hampir sebagian besar penduduk yang ada di Tanah Pasundan menganut agama Islam. Meskipun mayoritas penduduk kampung naga beragama Islam, namun masyarakat kampung naga sendiri dikenal masih tetap menjaga tradisi dan mematuhi pesan leluhur yang diwariskan pada mereka. Selain melaksanakan ajaran agama Islam, masyarakat Kampung Naga juga masih mengikuti tradisi dan budaya yang diajarkan nenek moyang mereka terdahulu. Salah satunya adalah dengan adanya upacara Hajat Sasih, yang biasanya diadakan bertepatan dengan Hari haji tanggal 10 Dzulhijjah.

Upacara Hajat Sasih sendiri dipercaya hampir dengan upacara besar Islam seperti Idul Adha dan Idul Fitri.

Nah, salah satu hal yang harus kamu ketahui juga mengenai Kampung Naga adalah cara mereka menjalani kehidupan di tengah suasana alam yang jauh dari perkotaan. Masyarakat Kampung Naga sendiri diketahui memanfaatkan pencahayaan dari api seperti pada damar dan oncor. Meskipun pemerintah sempat memberi penawaran untuk pengadaan sumber energi listrik di kampung tersebut, namun hal tersebut ditolak oleh sebagian besar masyarakat Kampung Naga. Alasannya karena mereka sendiri masih tetap ingin menjaga kelestarian budaya leluhur dan kesetaraan sosial di masyarakat.

Upacara menyepi dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga pada hari selasa, rabu, dan hari sabtu. Upacara ini menurut pandangan masyarakat Kampung Naga sangat penting dan wajib dilakukan, tanpa kecuali berpihak kepada yang benar laki-laki maupun perempuan. Oleh karena itu jika benar upacara tersebut di undurkan atau dipercepat waktu pelaksanaannya. Pelaksanaan upacara menyepi diserahkan pada masing-masing orang, karena pada landasannya adalah usaha menghindari pembicaraan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kebiasaan istiadat. Melihat kepatuhan warga Naga terhadap lebih kurang kebiasaan, selain karena penghormatan kepada leluhurnya juga untuk menjaga amanat dan wasiat yang bila dilanggar dikuatirkan hendak menimbulkan malapetaka.

Itu tadi sekilas tentang Kampung Naga yang berada di Tasikmalaya yang cocok untuk dikunjungi. Jika anda tertarik, anda bisa mengikuti paket wisata indonesia dari kami yang tanpa ribet dan pasti berangkat.

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PESAN SEKARANG